perhatian: apa yang saya tuliskan di ulasan kali ini, murni pendapat saya pribadi. Jadi, kamu pun bisa berpendapat lain atau kita bisa saling sharing pendapat di sini.

=========================

Hai, rasanya udah lama buanget nggak pernah update di blog. Sekalinya update, isinya review buku. Yep yep! Kali ini saya mau bagi review dikit tentang novelnya Revelrebel yang Philosophy of Love.

Secara pribadi, saya termasuk orang yang suka dengan ceritanya Revelrebel.

Kenapa? Karena bahasanya yang sederhana tapi tepat dan bisa membuat kamu exited untuk baca bab selanjutnya. Di sisi lain, hampir semua cerita punya Revelrebel itu untuk dewasa dengan tokoh yang sudah bekerja.

Jadi, saya pahamlah yang begituan.

Ya mungkin setelah ini kamu bakalan menilai kalau ulasan saya ini subjektif tapi up to you! Hehe…

For your information, cerita Philosophy of Love adalah cerita dari Wattpad. Bagi kamu yang belum punya versi cetaknya, kamu bisa ke Wattpad langsung.

pl
Philosophy of Love

“Masih ada ceritanya?”

Biasanya, cerita yang sudah dicetak akan dihapus dari peredaran Wattapad ‘kan? Namun, pas saya cek lagi di Wattpad, ceritanya masih utuh kok. Nggak tahu kalau nanti ya.

Jadi, kalau kalian sempat atau lagi butuh bacaan yang menemani kalian rebahan, kalian bisa baca-baca dulu!

Adakah perbedaan di versi Wattpad dan cetak?

Oh, tentu saja ada! Kali ini saya membeli buku yang tidak zonk baik isinya maupun hadiahnya. Jadi, bagi saya worth it lah!

Sinopsis Singkat Philosophy of Love

philosophy of love
sinopsis di Wattpad

Jadi, Calista ini seorang model. Yah, bisa dibilang model papan atas lah yang berkiprah di London. Dia patah hati lalu memutuskan untuk pulang. Nah, di saat dia pulang, dia ketemu dengan seorang Arsya.

Calista yang punya jiwa bebas, ceria, supel dan cukup bold ketemu dengan Arsya yang kalem, geek, tapi di sisi punya segudang sisi yang kamu nggak duga sebelumnya.

Singkat cerita dan seperti yang kalian duga, Calista jadian dengan Arsya. Keduanya saling menyelami dan mengenal satu sama lain, melewati up and down percintaan. Namun, akankah berakhir seperti fairy tale? Kamu baca aja ya, soalnya saya bakalan ngasih ulasan dan sebisa mungkin nggak spoiler kebanyakan hahaha.

Ulasan Singkat Philosophy of Love

Hayuk masuk ke ulasan!

Pertama kali saya tertarik Philosophy of Love adalah karena tokoh di cerita ini ada kaitannya dengan Cut The Crap dan si Calista a.k.a Mbak adalah adiknya si Pria Bermata Biru. Jadi, kalau dirimu baca ulasan singkat ini, duhai Revelrebel, tolong cetak yang Cut The Crap yes hehe! I would love it!

Awal baca, sebenarnya saya masih pikir-pikir nih walaupun Calista beberapa kali muncul di Cut The Crap. Apakah Calista ini akan punya sifat menjengkelkan, manja, nggak bisa ngapa-ngapain, macam tokoh utama yang kerap mampir di cerita-cerita romansa atau enggak? Dan ternyata, iya dan enggak.

Di satu sisi, Calista ini memang manja, apalagi dia adalah anak perempuan satu-satunya dari 3 bersaudara. Di sisi lain, Calista ini cukup tegas.

Kenapa saya bilang begitu?

Dibalik profesinya sebagai model dan segala pandangan orang tentang profesi tersebut, Calista punya sisi tegas yang saya suka. Misalnya saat dia mengalami pelecehan, dia langsung sebisa mungkin cut kerjasama dengan orang itu walaupun resikonya, bayar penalti atau job lebih sepi.

Di sisi lain, Arsya (dosen) ini walaupun dia geek tapi dia bukan termasuk golongan nerd yang baik-baik saja. Dia bukan sosok yang sempurna. Pernah mabuk dan melakukan sex.

Dari sini, kamu mungkin bisa menebak, hubungan dewasa antara keduanya. Ada naninana jadi, be wise! Apa yang kamu baca, menjadi tanggunganmu sendiri. Ukey?

Balik lagi ke ulasan, menurut saya, cerita ini nggak rumit. Namun, ada namunnya nih, kamu akan geregetan melihat betapa naifnya Calista ini.

Layakanya cerita pada umumnya, di Philosophy of Love pun ada antagonisnya. Siapa? Beberapa di antaranya adalah Inge dan sikap insecure.

Sebenarnya, si Inge Inge ini udah kelihatan nih bibit-bibit antagonis mengingat sifat dan sikapnya yang menjengkelkan dan terlalu ikut campur ke ranah pribadi. Padahal, urusan Inge-Calista harusnya tetap profesional dan menjaga batasan, mana yang harus dicampuri dan mana yang tidak.

Calista sendiri, nggak tahu ya dia terlalu percaya atau naif, tapi dia tetap saja percaya pada Inge. Mungkin di sini saya bisa bilang kalau Calista agak denial, kayak, “Masak sih, Inge begitu?”

Namun, akhirnya ya ketahuan juga. Tentang apa masalahnya? Coba baca sendiri ya hehe…

Lagi bagaimana dengan Arsya?

Sebagai seorang laki-laki yang punya cerita masa lalu cukup berat, ada sisi di mana dia tidak percaya dengan dirinya. Insecure dan ketakutan kalau Calista bakalan terseret ke kubangan kelam karena dirinya. Jadi, ada saatnya di mana Arsya menjadi bodoh, bertindak seenaknya atas nama tidak ingin membuat pasangannya menderita.

Beda Versi Wattpad dengan Cetak

Lalu, apa beda versi Wattpad dengan versi cetak? Versi cetak lebih lengkap. Jelas itu hahaha…

Ada beberapa tambahan yang nggak bakalan kalian temukan di versi Wattpad, salah satunya adalah Arsya’s POV. Walaupun singkat, tapi sekilas kamu bakalan dibawa ke sudut padang Arsya tentang kehidupannya terutama jalinan asmara dengan Calista.

Selain itu, tentu ada bonusnya hahaha. Salah satu bonus yang paling membuat saya suka adalah totte bag yang ukurannya cukup besar. Jadi, lumayanlah kalau dibawa ke mana pun termasuk saat belanja.

bonus Philosophy of Love Revelrebel
bonus Philosophy of Love Revelrebel
tas bonus Philosophy of Love Revelrebel
Tas Philosophy of Love

Plus Minus Philosophy of Love

“Wah dari ulasannya positif banget, pasti nggak ada minusnya!”

Oho, kamu salah Miramar! Walaupun nggak banyak, Philosophy of Love tetap ada minusnya. Menurut saya, cerita dari Revelrebel ini punya beberapa plus minus.

Plus Philosophy of Love:

  • Ceritanya ringan.
  • Alur yang mudah dipahami dan nggak loncat-loncat.
  • Bahasanya mudah dipahami.
  • Versi cetak yang jauh lebih lengkap dari versi Wattpad.

Minus Philosophy of Love:

  • Di versi cetaknya, nggak ada tulisan seperti novel dewasa. Mungkin sepele ya kelihatannya dan isinya pun nggak yang terlalu jelas banget nananinanya, tapi kalau ada tulisannya bisa jadi semacam warning. Jadi, anak di bawah umur pun atau belum siap bacaan kayak gitu, bisa lebih memilah tulisannya.
  • Alur yang buat saya pribadi sudah bisa diprediksi dari awal. Walaupun begitu, ada beberapa alur yang memang berbeda dari yang saya perkirakan.

Overall, 8/10

Dari ulasan di atas, menurut kamu, kamu bakalan baca Philosophy of Love nggak? Atau kamu justru mau diskusi bareng saya? Boleh banget! Kamu bisa komen langsung dan see you di review selanjutnya!