Beberapa bulan lalu, aku membeli lebih dari 1 buku. Salah satunya Perempuan di Titik Nol dari Nawal el-Saadawi.

Sebelum membeli buku merah tersebut, aku kurang tahu, itu tuh buku yang seperti apa. Namun yang pasti, buku ini cukup terkenal.

Kubaca sinopsisnya dan ada sesuatu yang membuatku tertarik. Aku penasaran dong, ini buku dari Nawal sebagus apa sih sampai akhirnya aku beli terus baca. Finally, i know it.

Firdaus yang malang dan pemberani.

Dan saya segera menyadari bahwa Firdaus memiliki lebih banyak keberanian dibandingkan saya.

Nawal el-Saadawi

Rangkuman Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi

Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
Sinopsis Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi

Sinopsis Perempuan di Titik Nol bisa kamu cek di gambar di atas ya.

Singkatnya, ada perempuan bernama Firdaus. Dia hidup bersama dengan keluarganya di Arab. Sejak kecil hingga dewasa, ia harus menghadapi lika-liku yang tidak mudah.

Ia harus hidup bersama dengan keluarga yang kurang -mungkin aku bisa bilang juga, tidak menyayanginya-. Sejak kecil, Firdaus hanya merasa bahwa pamannya lah yang menyayanginya.

Keinginan Firdaus ikut pamannya ke Kairo untuk belajar harus tertunda. Hingga pada akhirnya, ia berhasil belajar di Kairo. Ia tinggal bersama pamannya sebelum akhirnya pamannya menikah dan ia tinggal di asrama.

Lewat sekolah, Firdaus mengenal banyak teman dan ia menemukan sosok yang bernama Nona Iqbal. Firdaus menceritakan bagaimana baiknya Nona Iqbal hingga temannya menganggap bahwa Firdaus menyukai Nona Iqbal.

Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
Bertemu dengan Nona Iqbal

Setelah lulus, kemalangan Firdaus semakin menjadi. Firdaus dianggap beban hingga akhirnya dinikahkan dengan seorang pria tua.

Lagi-lagi, Firdaus mengalami kekerasan, harus hidup dibawah bayang-bayang laki-laki. Hingga pada akhirnya Firdaus pergi dari rumah dengan membawa ijazah sekolahnya.

Ia bertemu dengan Sharifa. Dari Sharifa, Firdaus mulai menjadi pelacur.

Lika liku kerasnya kehidupan semakin dialami Firdaus. Ia beberapa kali mencoba untuk hidup ‘benar’. Sayangnya, Firdaus sering kali mengalami kemalangan.

Mulai dari bertemu orang baik tapi ternyata orang tersebut hanyalah serigala berbulu domba. Ia juga bertemu dengan germo bernama Marzouk yang kemudian ia bunuh dan pangeran yang menjebloskannya ke penjara.

Dangerously Patriarcy

Patriarki menjadi permasalahan utama yang aku tangkap dari buku ini. Sangat terlihat bagaimana patriarki tergambarkan di novel Perempuan di Titik Nol.

Kamu kalau melihat di review yang lainnya, kerap kali menghubungkan antara patriarki dengan cerita karya Nawal el-Saadawi ini.

Eh tapi, kamu tahu tidak apa itu patriarki?

Istilah patiarki mungkin kamu sering dengar apalagi ketika membicarakan masalah feminisme.

Jika disederhanakan, patriarki adalah sistem sosial dimana pihak laki-laki lah yang mendominasi.

Kalau kamu pernah melihat diagram rantai makanan, nah, laki-laki ada di posisi paling atas. Kebayang dong bagaimana sistemnya kalau didominasi laki-laki?

Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
Salah satu bentuk patriarki di Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi

Apalagi di cerita ini, diceritakan dengan apik dan alur lambat yang jelas, patriarki sangat mendominasi. Mulai dari ayah Firdaus yang didahulukan saat semua anaknya kelapran, pamannya, suami hingga pangeran yang merasa superior.

Bahkan hingga saat ini, di Arab, seperti di Jpnn.com, perjuangan patriarki masih berlangsung.

Apa hanya patriarki saja? Tentu tidak.

Di novel ini pemahaman agama yang salah dianggap menjadi dasar untuk melakukan kekerasan. Padahal, seperti yang kamu tahu, tidak ada agama satu pun yang menganjurkan kekerasan. Apalagi kekerasan dalam rumah tangga.

Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
excuse di balik nama agama

Ulasan Perempuan di Titik Nol

Setelah sekian panjang tulisan di atas, aku masuk ke ulasan Perempuan di Titik Nol hehhe.

For your information, buku karya Nawal el-Saadawi hanya memiliki 3 bab dengan halaman hanya sampai 175 saja. Cukup sedikit apalagi jika dibandingkan dengan novel yang ada di Indonesia.

Eits, tapi jangan salah. Kalau kata orang marketing tuh, isinya daging semua. Kamu akan menemukan pengantar yang bisa memberikan informasi tentang cerita ini.

Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
Salah satu bagian di pengantar Perempuan di Titik Nol

Tulisan di buku merah ini keras dan pedas. Bukan berarti kamu akan minum 1 liter air saat membaca karena kepedasan. Namun, kamu akan menemukan fakta yang terpampang nyata.

Lewat Firdaus, aku -mungkin juga kamu- akan beranggapan sama dengan yang dia utarakan.

Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat.

Perempuan di Titik Nol

Hampir semua yang diutarakan, seperti cinta, patriotisme yang diagungkan terasa seperti omong kosong. Karena pada kenyataannya memang tidak dialami, dirasakan dan diterima oleh Firdaus atau tokoh lain di cerita ini.

Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
Hidup tanpa cinta = hidup dalam dusta
Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
patriotisme dalam Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
Review: Perempuan di Titik Nol by Nawal el-Saadawi
pemerintah, laki-laki, korupsi dan perampasan hak

Plus Minus Perempuan di Titik Nol

Ada beberapa keunggulan dari buku ini. diantaranya:

  • Diambil dari cerita nyata dengan cara penyampaian yang tepat sehingga feel-nya lebih terasa.
  • Banyak pelajaran hidup yang bisa diperoleh.
  • Singkat, padat dan jelas.
  • Bukunya tipis jadi bisa kamu bawa kenamapun kamu mau.
  • Alurnya runut.

Menurut aku, ada beberapa kekurangan, diantaranya:

  • Karena ini novel terjemahan, jadi, untuk kamu yang tidak terbiasa, akan terasa sangat membosankan.
  • Kamu harus jeli karena terjadi pergantian POV cerita tanpa ada keterangan lebih lanjut. Misalnya Nawal’s POV.

Overall Perempuan di Titik Nol : 9.5/10